Menyerah dan Realistis itu beda tipis

Perahu_Kertas_quote_large

“Nyerah sama realistis itu beda tipis”. Itu kalimat keenan di film Perahu Kertas yang sangat saya suka. Jadi waktu itu Kughi marah sama Keenan yang mau berhenti melukis, padahal Kughi tahu persis Keenan sangat berbakat. Lalu kenapa Keenan tetep keukeh mau berhenti? Ya karena dia mau realistis. Hahaha…

Terus apa hubungan saya membahas itu disini? Tidak ada sih sebenarnya. Saya hanya sedang mencoba mengikuti jejak Keenan. Saya mau realistis, bukan menyerah. Ini soal keputusan saya yang akhirnya keluar dari pekerjaan sebagai auditor kemudian bergabung dengan perusahaan automotive sebagai budget control. Kalau membahas soal penghasilan, tentu saja yang saya dapatkan saat ini jauh lebih sedikit karena saya memulai lagi karir dari nol. Lalu apanya yang realistis? Begini, sebagai auditor saya sangat mencintai dan menikmati pekerjaan saya dengan segala macam hal di dalamnya termasuk traveling gratis – hahaha, tapi sayangnya intensitas saya yang sering keluar kota membuat saya jauh dari keluarga, teman-teman, bahkan pacar(sekarang sudah mantan). Saya ingat, pernah ada pembicaraan antara saya dengan sang mantan yang kira-kira seperti ini ;

Dia     ; “Aku ga akan nikahin kamu selama kamu masih jadi auditor.”

Saya  ; “Kenapa emangnya?”

Dia     ; “Percuma, kamu bakalan jarang di rumah juga!”

Saya  ; Langsung ketawa ngakak.

Dia     ; “Aku serius loh ini!”

Saya  ; Langsung diam. Mikir sebentar. Ganti topik pembicaraan.

Saya memang malas membahas hal yang saya pikir terlalu mengada-ada. Entah itu merupakan penyangkalan saya atau bagaimana. Yang pasti sih sekarang saya mulai sadar, mungkin yang dia katakan waktu itu ada benarnya juga. Apalagi Ibu saya akhir-akhir ini juga jadi lebih bawel dan sering komplain, katanya dia sudah tua, sudah sering sakit ini itu, harapannya sih saya bisa cari pekerjaan yang ga pergi-pergian terus jadi punya lebih banyak waktu di rumah. Dan akhirnya Tuhan mengabulkan harapan Ibu saya.

Sialnya, baru 2 minggu saya bekerja sebagai budget control tapi saya sudah merasa bosan setengah mati. Entahlah, apa memang pekerjaannya yang terlalu monoton dan statis atau saya yang punya masalah dalam beradaptasi pada pekerjaan baru ini.

Bagaimanapun juga, ini resiko yang sudah saya perhitungkan sebelumnya. Jadi suka tidak suka, ya dijalanin dulu aja lah ya.

Advertisements

It’s about the job that you love

image

Auditor, sebenarnya bukan pekerjaan yang saya impikan saat saya masih kecil dulu karena saya lebih suka menggambar daripada menghitung, lebih suka menghayal daripada menganalisis, dan lebih suka nonton film kartun candy candy daripada detektif conan. Lalu semakin dewasa, impian saya pun mulai bermetamorfosa seperti juga diri saya sendiri. Awalnya mungkin setengah terpaksa saya mencemplungkan diri di jurusan akuntansi saat lulus SMP dulu, tapi lama-kelamaan saya jadi lupa bahwa saya lebih suka melihat lukisan daripada  deretan angka-angka yang memusingkan. Hadeuuuh…
Saya tidak menyesal dengan keputusan yang saya pilih, toh saya pun cukup mencintai pekerjaan yang saya jalani saat ini. Mungkin kalau saya memaksakan diri untuk masuk sekolah seni, saya hanya akan menjadi seniman jalanan yang kelayapan di jalan-jalan karena tidak cukup berbakat. Hehehe
Lalu apa saya sudah puas dengan karir saya yang sekarang? Entahlah, saya hanya tahu persis bahwa saya mencintai pekerjaan ini terlepas dari segala hal tidak menyenangkan yang ada di dalamnya. Saya tutup mata saja, dan tutup telinga juga layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Pernah sih terlintas untuk mencoba pekerjaan di bidang lain saat beberapa teman menawarkan sebuah posisi kosong di tempat kerjanya dengan iming2 benefit yang cukup menggoda, tapi ya itu tadi…. Saya sudah terlanjur jatuh cinta dan ketika saya jatuh cinta maka saya menjadi orang yang paling keras kepala dan paling bodoh sedunia. Ahahahaha, bodoh kok bangga!
Oke, jadi intinya, it’s about the job that you love, apapun itu. Kebetulan pekerjaan yang saya cintai itu pekerjaan sebagai auditor, meskipun harus saya akui, menjadi auditor itu menyebalkan sekali.

Bukan karena penakut

image

Kata orang, ketakutan itu berasal dari dalam diri kita sendiri, pikiran2 kita sendiri, imajinasi kita sendiri, seperti halnya ketakutan kita terhadap makhluk2 astral. Saya bukan tidak setuju, tapi saya rasa ketakutan dalam pikiran kita tidak mungkin  tiba2 muncul begitu saja tanpa adanya pemicu. Sepenakut apapun orang itu.
Saya punya sebuah cerita yg terjadinya baru2 ini, tepatnya 2 hari lalu, pada malam sabtu saat saya menginap di sebuah villa di anyer untuk acara gathering bersama rekan2 kerja saya. Awalnya saya tidak merasakan ketakutan apapun, biasa2 saja, sampai akhirnya sekitar jam 1 malam saya benar2 ngantuk dan masuk kamar untuk tidur. Tidak ada yang aneh sampai akhirnya saya dibangunkan oleh teman saya yang katanya sudah berkali2 mengetuk pintu kamar saya tanpa respon, ahahahaha. Tidur saya memang seperti orang pingsan.
Jadi kenapa teman saya membangunkan saya? Begini, sebelum saya masuk kamar, ternyata istri bos saya yg seharusnya tidur di kamar yg sama dengan saya tiba2 keluar kamar dan berlari turun ke lantai bawah – posisi saya pada saat itu sedang mengobrol di kamar sebelah bersama teman2 saya dan tidak mendengar sama sekali kejadian itu. Di lantai bawah ada 2 teman saya yg sedang main PS, mereka kaget melihat istri bos saya lari ketakutan keluar villa sambil bergumam “serem, serem, saya mau tidur di mobil aja”. Mereka berdua lah yg akhirnya – setelah saling berkonsultasi agar info yang akan mereka sampaikan tidak terlalu mengejutkan, naik ke lantai atas dan memberitahu teman2 saya yang lain, posisi saya baru saja masuk ke kamar saya dan langsung tertidur dengan cepat. Hehehe, saya memang pelor (nempel bantal langsung molor)
Singkat cerita, pada akhirnya istri bos saya memang kembali ke dalam villa dan tidur di dalam kamar yang sama dengan saya, tapi kejadian tadi benar2 sudah memicu ketakutan saya keluar dengan sempurna. Huuuuft!
Lalu apa sebenarnya  yang membuat istri bos saya ketakutan? Ternyata dia melihat seperti ada sesuatu yang mengintip dari balik lubang angin segiempat di pojok atas ruang kamar saya. Sebelas duabelas dengan cerita dari 2 teman saya yang sedang main PS di lantai bawah, jadi beberapa saat sebelum istri bos saya lari ketakutan keluar villa, mereka baru saja melihat kelebatan bayangan dari balik jendela yang terbuka, 2 kali pula hingga membuat mereka merinding dan berpandangan ngeri.
Bukan itu saja, saya pun punya 1 cerita yang membuat saya yang penakut ini hampir berteriak seperti orang bodoh. Jadi setelah saya dan istri bos saya masuk ke dalam kamar, kami tidak langsung tidur tapi mengobrol sampai akhirnya istri bos saya ingin ke toilet dan otomatis meninggalkan saya sendirian di dalam kamar. Saya memang sudah parno jadi saya memutuskan menunggu di dekat pintu kamar yang saya buka lebar2 sambil bermain hp, tiba2 saja saya melihat ada sesuatu yang terang muncul dengan cepat di balik lubang angin di pojok kamar saya dan membuat tengkuk saya terasa berat, refleks saya pada saat itu adalah saya langsung bangkit keluar kamar dan berusaha membuka pintu kamar teman saya yang ternyata dikunci. Arrrrrgggghhh! Saya pun tidak kehabisan akal dan segera mengetikkan beberapa pesan singkat di hp saya untuk meminta salah satu teman saya membukakan pintu. Apa saya berhasil? Sama sekali tidak, mereka justru makin ketakutan dengan usaha saya menarik panel pintu untuk mencoba membukanya, lebih luar biasa kan? Ahahahaha
Untunglah, istri bos saya segera keluar dari dalam toilet sebelum saya sempat  berteriak histeris karena ketakutan saya yang semakin menjadi2 dan keputusasaan saya yang gagal meminta pertolongan.
Akhirnya kesimpulan saya adalah villa itu pasti berhantu dan hantunya pun cukup iseng mengganggu saya dan teman2 saya hingga kami semua ketakutan. Jadi kalau boleh sedikit membela diri, sebenarnya bukan saya dan teman2 saya yang penakut, tapi memang makhluk2 astral itulah yang terlalu iseng mengganggu kami. Hehehe

Membatasi Mimpi

Saya adalah jenis orang yang sangat senang bermimpi, bermacam2 mimpi yang salah satunya yaitu bermimpi bisa menulis blog seperti ini. Sederhana sekali ya? Tapi untuk mimpi yang sederhana itu saja saya bahkan baru bisa mewujudkannya saat ini. Luar biasa kan? fiuuuh!
Lalu bagaimana dengan mimpi2 saya yg lain? Yang jumlahnya bahkan tidak terhitung oleh sepuluh jari saya, hehehe.
Dulu saya berprinsip, selama bermimpi itu masih gratis berarti saya bebas membuat mimpi2 saya sebanyak2nya dan tidak terbatas lalu berusaha mewujudkannya dengan segenap kemampuan saya yang sayangnya serba terbatas. Contohnya begini, saya pernah punya mimpi untuk mendaki puncak gunung rinjani karena sepertinya sangat keren, tapi jangankan mendaki gunung setinggi itu, diajak mendaki GG Pangrango saja ternyata saya menyerah dan lebih memilih berkemah di lerengnya, payah sekali memang. Tapi saya punya alasan yg cukup masuk akal, saya ini tdk cukup tahan dengan udara dingin dan kadang2 saya bisa mimisan kalau kedinginan, ini payah lagi kan namanya?
Contoh lainnya, saya ini pernah punya mimpi mendirikan taman bacaan dengan jutaan buku2 bagus, novel2 populer, komik2 keren yang semuanya akan saya pinjamkan gratis pada siapapun yang mau mampir ke taman bacaan saya, mulia sekali ya mimpi saya yang satu ini, hehehe. Sayangnya, saya lupa kalau taman bacaan seperti yang saya impikan itu memerlukan banyak sekali tumpukan uang untuk mewujudkannya, sedangkan saya ini orang yang cukup sulit menyisihkan pundi2 uang dari gaji saya yang pas2an, aaarrrggghhh! Payah! Kalau saya ceritakan mimpi2 saya yang lain, saya yakin akan semakin banyak lagi kata payah yang muncul dan itu akan sangat membosankan. Yup, akhirnya suatu hari saya curhat dengan teman saya, perempuan juga, dan seusia dengan saya. Bedanya, dia jauh lebih berhasil dari saya dalam hal mewujudkan mimpi2nya. Mimpi2 yang luar biasa menurut saya, mimpi menikah di usia 28 tahun dengan pesta kecil di tepi pantai dan berbulan madu ke Lombok, menjadi PNS pada sebuah departemen bergengsi, beasiswa S2, dan memiliki rumah mungil di pinggiran Ibukota. Taraaaa….tiba2 saja semuanya terwujud dengan begitu mudah. Tidak, bukan tiba2 sebenarnya tapi secara perlahan2 juga pastinya. Nah, saat saya minta dia berbagi tips jitunya, ternyata sederhana saja, dia bilang mimpi itu harus dibatasi agar kita bisa lebih fokus dalam mewujudkannya. Tidak perlu terlalu banyak dan tidak perlu terlalu tinggi, cukup sedikit mimpi tapi kita benar2 berkomitmen dengan mimpi2 itu. Komitmen dengan mimpi, itulah yang tidak pernah saya miliki. Saya hanya sibuk bermimpi sebanyak2nya lalu membiarkan mimpi itu berlari menjauhi saya.
Baiklah, mulai hari ini saya akan berusaha membatasi mimpi2 saya dan berkomitmen pada mimpi2 tersebut seperti yang dilakukan teman saya itu. Hehehehe